Slider

Iwan's Tube

Analisis

Seputar Islam

Techno

My Story

Jappa - Jappa + Kuliner

Hasil Jepretan

» » Pesimisme Terhadap Demokrasi "Sebuah Kerugian atau Keuntungan”

Sebentar lagi rakyat Indonesia akan menyelenggarakan perhelatan 5 tahunan. Kegiatan ini akan menentukan nasib bangsa Indonesia 5 tahun kedepannya. Di sini masyarakat akan memilih siapa saja yang akan mewakili aspirasi mereka. Para legislatif yang terpilih akan membuat kebijakan – kebijakan atau program – program yang nantinya akan memudahkan rakyat untuk meraih kesejahteraan. Sebelum mereka terpilih sebagai anggota legislatif ternyata mereka telah merancang sedemikian rupa kebijakan yang nantinya akan mereka terapkan.  Mereka mengemasnya sebagai janji – janji yang diutarakan kepada konstituen (calon pemilih) agar para pemegang hak suara ini dapat mempercayai mereka dan memilih mereka sebagai perwakilan. Tak jarang para calon legislative melakukan berbagai cara untuk meraih suara terbanyak. Mulai dari cara – cara yang “sehat” sampai cara – cara yang diluar nalar. Ada yang melakukan blusukan. Mendatangi langsung konstituen dengan berbagai agenda di dalamnya. Misalnya melakukan kampanye dialogis, mencukupi kebutuhan pokok masyarakat dan merealisasikan keinginan – keinginan masyarakat setempat.  Tapi ternyata tidak semua calon legislatif melakukan kampanye dengan cara – cara yang positif.  Banyak diantara mereka yang memakai cara – cara curang dalam kampanye. Misalnya dengan melakukan money politic  atau poltik uang dimana para calon anggota legislatif yang memiliki modal yang besar membagikan uang kepada para konstituen dengan catatan harus memilih mereka pada saat pemilu nanti. Selain itu ada juga yang memakai cara – cara yang tidak masuk akal untuk meraih kemenangan. Para caleg banyak yang mendatangi dukun – dukun atau paranormal untuk meminta bantuan secara magis agar mereka menang dalam pemilu nanti.

Fakta – fakta tersebut hanya sebagian kecil dari tingkah laku para caleg dalam melakukan inovasi kampanye untuk meraih suara.  Dibalik itu semua ternyata harapan para caleg yang menginginkan antusiasme masyarakat dalam memilih tidak selalu berjalan dengan mulus.  Faktanya banyak masyarakat yang bukannya simpati malah antipati terhadap para caleg. Apalagi kepada caleg – caleg yang menempuh cara – cara yang tidak lazim. Tentunya mereka akan dinilai tidak baik oleh banyak kalangan di masyarakat. Sementara itu banyak juga kalangan masyarakat muslim yang sudah paham bahwa system pemilihan anggota dewan legislatif dalam tatanan  demokrasi bertentangan dengan prinsip – prinsip dasar  Islam. Bagaimana tidak, dalam  Islam kedaulatan itu ada pada hukum syara’ yang diturunkan oleh Allah SWT. Jadi mau tidak mau seharusnya seorang muslim yang sejati harus mentaati apa yang menjadi ketetapan Allah SWT. Tetapi hal tersebut tidak berlaku dalam tatanan Negara demokrasi.  Dalam system demokrasy kedaulatan ada pada rakyat. Sesuai dengan prinsip dasar demokrasy yaitu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Tentunya dengan poulasi rakyat yang begitu besar dalam sebuah negara maka sangat tidak mungkin kebijakan – kebijakan tersebut dibuat oleh rakyat secara keseluruhan. Maka dari itu untuk menampung aspirasi rakyat membutuhkan perwakilan – perwakilan yang nantinya akan menetapkan regulasi untuk memenuhi kebutuhan kesejahteraan rakyat. Secara konsep memang pola seperti ini amat sangat menjajikan karena rakyat bisa menentukan apa yang terbaik untuk mereka. Tapi ternyata wacana harapan yang tidak selalu sesuai dengan kenyatan berlaku pada system demokrasi. Faktanya konsep menyejahterakan rakyat yang dituangkan dalam kebijakan – kebijakan oleh para anggota dewan tidak berhasil. Rakyat bukannya sejahtera malah semakin terpuruk dalam lingkaran kemiskinan yang seolah – olah tidak ada akhirnya. Belum lagi tindakan – tindakan kriminal yang dilakukan oleh banyak anggota legislatif seperti korupsi, gratifikasi, perselingkuhan dan lain sebagainya semakin menurunkan citra mereka di mata masyarakat.


Berangkat dari semua hal itu maka tidak heran banyak kalangan yang memprediksikan bahwa pemilu kali ini tidak akan seramai pemilu – pemilu sebelumnya.  Banyak lembaga survey yang menyatakan bahwa tingkat golput kali ini semakin meningkat.  Tentunya penyebab utama hal tersebut adalah menurunnya elektabilitas terhadap partai politik dan calon legislatif yang diusung masing – masing partai.  Tingkat kepercayaan masyarakat mengalami dekadensi yang signifikan. Dengan demikian para pemikir – pemikir negeri ini sudah seharusnya merancang sebuah pola baru atau menerapkan pola yang sudah lama tetapi berhasil dalam penerapannya dalam sebuah negara. Berdasarkan kajian history dan realita yang terungkap dalam fakta-fakta sejarah, system yang paling sukses menyejahterakan rakyat adalah system Islam yang luas wilayahnya waktu itu mencakup hampir 2/3 bagian dari dunia ini dan lama berkuasanya selama 13 abad. Seharusnya system inilah yang seharusnya dijadikan pijakan atau bahkan dijadikan sebagai system baku dalam konsteks negara yang betujuan menyejahterakan rakyat. [ Andi Iwan ]
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply